Bandung = Menjaga Harta Ibu Pertiwi!

Nama kota BANDUNG diserap dari kata Bandung dalam bahasa Sunda = BERSAKSI. Kata ini berasal dari kalimat sakral dan luhur: “Nga-Bandung-an Banda Indung” = Menyaksikan/Menjaga Harta Ibu (Pertiwi). 

Orang Eropa pertama yang menginjak tataran Bandung pada tahun 1628 adalah Juliaen de Silva bekas tentara Portugis. Disusul oleh Arie Top seorang koporal tentara Belanda. De Silva menamakan Bandung sebagai NEGORIJ BANDONG
Negorij artinya Kampung

Kota Bandung baru secara resmi mendapat status gemeente (KOTA) dari Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz pada tanggal 1 April 1906 dan diberi gelar . EX UNDIS SPOL = “Dibalik gelombang ada mentari”.

Begitu kira-kira makna adagiumnya. Orang berbondong-bondong datang ke kota ini untuk mencari mentari. Mencari pengharapan sampai harus menembus gelombang dari seberang benua.

Pada tahun 1846 Bandung baru dihuni oleh sembilan keluarga Belanda dan enam keluarga Tionghoa. Orang Tionghoa pertama yang tinggal menetap di Bandung bernama Tam Long, yang kemudian namanya diabadikan menjadi Jalan Tamblong. Tempat mereka dahulu bermukim.

Bandung menjadi daya tarik banyak penduduk sejak dibukanya perjalanan rel kereta api ke Cianjur pas tanggal 17 Mei 1884. Dari sana mereka bisa melanjutkan perjalanan ke Batavia

Pada tahun 1921 penduduk Bandung terdiri dari sekitar 12.000 orang Belanda, 11.000 orang Tionghoa dan sekitar 89.000 penduduk setempat.

Namun sekarang Bandung merupakan kota terpadat ketiga di Indonesia setelah Jakarta & Surabaya. Dengan jumlah penduduknya yang hampir mencapai 2,8 juta jiwa

Salah satu komoditi dari Priyangan pada saat itu adalah Kopi. Oleh sebab itulah sampai tahun 1882 mereka menamakan jalan Braga itu = KARRENWEG (Jalan Gerobak/Pedati).

Merujuk pada gerobak-gerobak di jalan tersebut yang mondar-mandir membawa kopi ke gudang-gudang yang berada di situ. Maka tidaklah heran apabila musim hujan menjadi jalan ini menjadi becek dan penuh lumpur.

Namun akhirnya jalan ini di perbaiki dan dijadikan jalan yang bagus oleh pengusaha perkebunan dari Soekabumi yang bernama Andries de Wilde seorang Dr Ahli Bedah dari Amsterdam.

Andries de Wilde itu juga anggota dari Toneelvereniging (Perkumpulan Sandiwara) BRAGA yang terletak dijalan tersebut

Mereka menggunakan nama Braga untuk perkumpulannya diserap dari nama seorang penulis drama Portugis: Teofilo Braga (1843 – 1924). Maka dari itulah jalan tersebut diberi nama BRAGA olehnya.

Andris de Wilde sendiri mendirikan rumah bagus di Bandung, yang sekarang ini dijadikan Balai Kota Bandung.

sumber: catatan Robert Nio/Mang Ucup di Facebook

5 Artikel Terbaru di BB

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

Silahkan berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s